Esai berjudul 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bertema absurdisme.
Esai 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bisa pembaca nikmati hingga bagian akhir artikel.
Berikut artikel 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme'.
Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme #1
(Oleh : Wildan Rukana)
“Hadapilah seperti Sisipus yang mengangkat batu ke puncak bukit berulang kali”
Permasalahan manusia modern hari ini adalah pencarian makna atas eksitensinya di dunia. Beberapa orang memahami dirinya sebagai manusia yang bermakna dan beberapa lainnya memahami dirinya sebagai manusia yang sia - sia. Beberapa mati – matian berjuang untuk sesuatu yang membuatnya kecewa. Beberapa lagi merasa bahwa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan, bahwa pada akhirnya semua makhluk pasti mati dan hidup baginya tidak bermakna.
Pertanyaan “buat apa ya aku terlahir di dunia ini?” adalah pertanyaan yang akan terus dihadapi manusia. Beberapa merasa hidupnya tidak bermakna karena lahir dalam penderitaan dan beberapa merasa hidupnya tidak bermakna karena merasa nyaman dengan kenikmatan dan nyaris tidak pernah susah. Pada satu titik manusia yang tidak pernah susah juga akan menghadapi perasaan hampa tanpa makna seperti orang yang lelah dengan penderitaan.
Ada beberapa hal yang membuat manusia bisa terjebak dalam pertanyaan yang sangat filosofis ini dan kemudian terombang ambing dalam hidupnya karena ia salah mengartikan dirinya sendiri. Pertama karena dia merasa penderitaan yang dia hadapi tidak memberinya pencapaian hidup sama sekali. Kedua dia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain yang hidup lebih bahagia dengannya. Alasan ketiga karena orang tersebut tidak bisa memaafkan masa lalunya yang suram dan banyak lagi alasan lainnya.
Pada satu titik memang manusia akan mengalami kegelisahan dalam hidupnya dan bertanya “Ada atau gak ada aku itu apa ya dampaknya ?” Kalau pun ada dampaknya dari keberadaanku lalu apa makna yang ada di baliknya. Pertanyaan berat hadir karna manusia membutuhkan makna yang membuatnya merasa hidup. Boleh jadi manusia terjebak pada simbol-simbol dalam kehidupan ini tapi yang ia cari-cari sebenarnya ialah makna.
Orang yang beragama pun melakukan ritual ibadah bukan untuk hanya menjalankan simbol-simbol ritualitas dalam gerak-gerak di dalam ibadah tetapi ingin mencari hakekat “Makna” yang ada di baliknya. Sebab sekalipun peradaban manusia ini berkembang karena adanya simbol-simbol berupa bahasa, lambang dan tanda sebagai pemersatu imajinasi bersama tetapi sesungguhnya manusia ingin terlepas dari simbol-simbol itu.
Mari kita membahas ini dengan bahasa permisalan bagaikan sastra-sastra. Beberapa manusia mengejar harta tetapi kemudian harta itu sendiri yang menyakitinya karena ia melihat anak cucunya berebut warisan. Beberapa manusia mengejar tahta lalu dia kecewa dengan tahtanya sendiri yang membuatnya dipenggal oleh rakyatnya sendiri yang melakukan revolusi. Beberapa manusia mengejar-ngejar wanita cantik untuk menjadi istrinya lalu kemudian ia kecewa sendiri karena wanita cantik itu meninggalkannya ketika ia dalam keadaan susah.
Raja-raja dan penguasa yang memiliki selir-selir cantik pun pada dasarnya juga mengalami ketidakber’makna’an atas apa yang dia miliki karena simbol-simbol berupa harta-tahta-wantita-wanita-wanita-wanita-wanita. Harta-tahta-wanita pada dasarnya adalah simbol makna hidup yang dikejar dibaliknya sebenarnya ialah kebahagiaan, kebijaknsaan, kenikmatan. Raja akan kehilangan simbol-simbol itu tatkala terjadi revolusi karena sebuah kejadian acak atau karena sesuatu yang lain sebagai contoh sakit ataupun impoten.
Sebuah kenyataan yang absurd. Pada titik seperti ini ketika kita tahu bahwa raja-raja pun juga bisa saja sewaktu-waktu kehilangan simbol-simbolnya, maka bisa dikatakan bahwa hidup raja-raja itu pun juga tidak bermakna. Pada dasarnya ketika harta-tahta- dan wanita yang dikejar oleh manuisa itu tidak menimbulkan kebahagiaan sejati maka bisa dikatakan bahwa harta-tahta- wanita yang dimilikinya adalah bernilai nihil, tanpa makna.
Masalahnya ialah manusia juga bisa saja tersakiti oleh makna yang ia kejar dan ia cari-cari pada akhirnya. Kita tidak bisa memarahi orang lain hanya karena pengorbanan kita tidak pernah dihargai ataupun diabaikan. Hidup akan selalu begitu, bahwa kita akan selalu menghadapi rasa sakit yang berasal dari luar diri kita.
Kita juga tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa di manapun kita memutuskan diri kita untuk berpijak akan selalu ada rasa sakit yang sebenarnya ingin kita hindari. Klise, manusia selalu berorientasi untuk mengejar kebahagian dan kenikmatan. Dogma dalam diri kita bahwa hidup itu adalah mengejar kebahagiaan inilah yang sebenarnya membuat kita sebagai manusia akan selalu kecewa dan justru menderita. Bahwa kebahagiaan bagaimanapun itu dan sebersyukur apapun hidup seseorang, pada satu titik dia juga akan jenuh dengan kebahagiaan itu dan mengejar kebahagiaan yang lebih tinggi.
Pada titik ini manusia butuh obat yang mampu melampaui rasa sakitnya atau kesadaran filosofis yang mampu mencabut rasa sakitnya.Kenyataanya ialah perlu latihan tertentu yang harus dilakukan seseorang untuk melampaui rasa sakit itu dan tidak lari darinya. Iya benar, mengharapkan rasa sakit itu hilang maka rasa sakit itu menjadi bertambah. Perasaan absurdpun tidak jua menghilang.
Seseorang kadangkala perlu stoisisme sebagai pertolongan pertama atas rasa sakit di jiwa dan zen budism untuk mencabut rasa sakit itu sampai akarnya. Mencabut samsara dan perasaan rasa sakit bisa melalui berbagai cara.
Perasaan absurd pada kehidupan ini bisa jadi tetap tidak bisa hilang begitu saja dan tetap terbawa hingga akhir hayat. Hanya saja bagaimanapun itu hidup tetap harus dijalani dengan berbagai keabsurdannya dengan gagah berani. Melampaui kesadaran meditatif.
***Bersambung (2020)

Komentar
Posting Komentar