Langsung ke konten utama

Bunuh Diri di Era Modern, Kompleksitas Pemicu, dan Sudut Pandang Filsafat

        (Ditulis oleh: Muhammad Wildan Habibillah)

        (Foto: Muhammad Wildan Habibillah)

(Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.)

Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Data dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menunjukkan bahwa kurang lebih satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jadi bisa dikatakan bahwa ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia pada setiap 40 detik.

Bunuh diri juga menjadi wacana serius dan kompleks di tengah kehidupan masyarakat modern yang kian banyak permasalahan, tekanan kerja, tidak menemukan makna hidup, tekanan permalahan hidup, ketatnya persaingan untuk bertahan hidup, kurangnya sikap humanis, kesenjangan sosial, perasaan dieksploitasi, dan permasalahan sosial lainnya yang membuat manusia modern kewalahan.

Bunuh diri terkadang menjadi sekedar wacana bagi sebagian orang dan sebagaian lagi menjadi sumber ketakutan trauma bagi yang pernah berinteraksi dengannya. Bunuh diri pada realitanya juga menimbulkan kesan tertentu bagi pihak yang memiliki koneksi dengan pelaku bunuh diri baik koneksi empati atapun koneksi relasi sosial.

Manusia yang tiba-tiba saja hadir di dunia ini dihadapkan dengan beberapa realita yang tak menentu. Sebagian dari manusia mengalami penderitaan yang melebihi kekuatan batin untuk menanggung penderitaan ini dan memilih untuk bunuh diri. Sebuah pilihan krusial yang dilator belakangi faktor yang kompleks dan tak bisa disimpulkan dengan mudah. Pada tingkat penderitaan tertentu seseorang akan bertanya tentang apa gunanya hidup dalam lingkaran penderitaan yang mendalam sehingga ini juga bisa jadi pemicu kehendak sesorang untuk ‘bunuh diri. Terlebih saat sang individu tidak dapat melihat harapan bahwa penderitaan yang mendalam itu akan mereda.

Banyak faktor yang menjadi pemicu penderitaan mendalam yang berujung bunuh diri yang di antaranya:

1.      1. Depresi berkepanjangan,

2.      2. Ketiadaan harapan untuk merubah dan bisa keluar dari situasi menderita yang berkepenjangan,

3.      3. Kehilangan orang yang paling dicintai,

4.      4. Kehampaan dan persaan sebatang kara,

5.      5. Tidak menemukan makna dari penderitaan hidup yang dijalani,

6.      6. Perasaan tidak layak untuk melanjutkan hidup.

7.      7. Dan berbagai faktor kompleks lainnya.

Manusia yang menurut sebagaian orang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup dihadapkan dengan berbagai pilihan. Salah satu wacana serius ialah tindakan ‘bunuh diri’ dan kaitannya dengan kehendak bebas. Terlebih saat si individu yang melakukan tindakan bunuh diri sudah tidak lagi takut dengan konsep kematian. Nietzche seorang filsuf asal Jerman berpendapat bahwa bunuh diri merupakan hak mendasar bagi individu yang menginginkannya. Ada semacam pro dan kontra terkait pilihan individu ini dari sudut pandang para filosof.

Sedangkan Schopenhauer (filsuf asal Jerman) berpendaoat bahwa, “hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya”. Berdasarkan sudut pandang Schopenhauer ini seakan mengisyaratkan bahwa bunuh diri seakan menjadi tindakan yang diperbudak oleh kehendak dan cara untuk meredamnya ialah dengan meredam kehendak. Schopenhauer berpendapat bahwa kehendak itu sebernya bisa dikendalikan dan bukan malah tidak terkendali.

Aristoteles sang filsuf besar asal Yunani juga berpendapat tentang bunuh diri dalam bukunya yang berjudul ‘Nicomachean Ethics’. Aristoteles beropini bahwa bunuh diri sebagai tindakan yang membutuhkan alasan mendasar yang kuat. Ketika tindakan bunuh diri itu tidak didasari oleh alasan yang kuat maka tindakan bunuh diri tersebut merupakan pelanggaran hak pribadi seseorang dan juga pelanggaran terhadap kehidupan bermasyarakat.

Filsuf asal Prancis yakni Albert Camus dalam karyanya yang berjudul ‘Le Mythe de Sisyphe’ mengungkapkan tentang absurditas sebagai kondisi yang memungkinkan manusia untuk melakukan tidakan bunuh diri. Absurditas menjadi salah satu ciri kehidupa manusia yang kadang terlihat tidak masuk akal. Dunia terus berjalan sedangkan manusia mati.

Manusia mengalami penderitaan di dalam absurditas hidup dan salah satu pilihan yang diambil beberapa orang untuk mengakhirnya ialah dengan bunuh diri. Salah satu faktor mengambil pilihan ‘bunuh diri’ ialah tidak menemukan alasan yang mendalam untuk tetap hidup dan tidak menemukan makna pada penderitaan yang dialami. Hanya saja Camus sepertinya tidak menyarankan manusia untuk bunuh diri dan ini terungkapkan dalam ungkapannya yang berbunyi"Should i kill myself, or have a cup of coffee?"

Mengingat rumitnya dan kompleksitas terkait keputusan seseorang melakukan bunuh diri maka sangat tidak disarankan bagi masyarakat untuk menggampangkan alasan tertentu dari seseorang yang melakukan bunuh diri. Mengingat juga betapa krusialnya kajian tentang bunuh diri ini maka sangat disarankan bagi cendekiawan, ulama, filosof, dan berbagai elemen dalam masyarakat untuk bisa mengupayakan kajian tentang  makna keluhuran hidup dalam kehidupan masyarakat. Hal ini agar individu punya kemungkinan lebih besar menemukan makna hidup sekalipun dalam keadaan penderitan yang ekstrem.

Catatan: Jika ada kesalahan, typo, dan salah tulis bisa kirim saran dan kritiknya di kolom komentar. Tulisan ini boleh dishare.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme

(Foto: jendela.kemendikbud.go.id) Esai berjudul 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bertema absurdisme. Esai 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bisa pembaca nikmati hingga bagian akhir artikel. Berikut artikel 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme'. Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme #1 (Oleh : Wildan Rukana) “Hadapilah seperti Sisipus yang mengangkat batu ke puncak bukit berulang kali” Permasalahan manusia modern hari ini adalah pencarian makna atas eksitensinya di dunia. Beberapa orang memahami dirinya sebagai manusia yang bermakna dan beberapa lainnya memahami dirinya sebagai manusia yang sia - sia. Beberapa mati – matian berjuang untuk sesuatu yang membuatnya kecewa. Beberapa lagi merasa bahwa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan, bahwa pada akhirnya semua makhluk pasti mati dan hidup baginya tidak bermakna. Pertanyaan “buat apa ya aku terlahir di dunia ini?” adalah pertanyaan yang akan ter...

Bunuh Diri dalam Beberapa Perspektif

                                                  (Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)                                                  (Foto: pexels.com/ Kripesh adwani) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan manusia di berbagai era. Perbincangan tentang bunuh diri ini bagi sebagian orang akan dianggap sebagai wacana yang sensitive. Hanya saja...