(Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)
(Foto: pexels.com/ Kripesh adwani)
(Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.)
Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam
kehidupan manusia di berbagai era. Perbincangan tentang bunuh diri ini bagi
sebagian orang akan dianggap sebagai wacana yang sensitive. Hanya saja
mengingat fenomena bunuh diri benar-benar ada dalam kehidupan nyata maka kajian
tentang bunuh diri tetap layak untuk diulas.
Permasalahan yang kompleks dalam individu manusia menjadi
salah satu pemicu munculnya tindakan bunuh diri. Hal ini karena oang memandang solusi
dari masalah dengan cara yang berbeda-beda. Terlebih jika seseorang mengalami
penderitaan yang sangat menyakitkan. Rumitnya alasan orang yang memilih bunuh
diri ini bahkan sulit juga ditangani sekalipun oleh seorang ahli.
Albert Camus (Filsuf asal Prancis) dalam karyanya yang
berjudul ‘Le Mythe de Sisyphe’ mengungkapkan tentang absurditas sebagai kondisi
yang memungkinkan manusia untuk mealkukan tidakan bunuh diri. Absurditas
menjadi salah satu ciri kehidupa manusia yang kadang terlihat tidak masuk akal.
Dunia terus berlanjut sedangkan manusia mati.
Manusia mengalami serangkaian penderitaan di dalam
absurditas dan salah satu pilihan yang diambil beberapa orang untuk
mengakhirnya ialah dengan bunuh diri. Salah satu faktor mengambil pilihan
‘bunuh diri’ ialah tidak menemukan alasan yang mendalam untuk tetap hidup dan
tidak menemukan makna pada penderitaan yang dialami. Hanya saja Camus
sepertinya tidak menyarankan manusia untuk bunuh diri dan ini terungkapkan
dalam ungkapannya yang berbunyi ‘Should i kill myself, or have a cup of
coffee?’
Bunuh diri dalam tradisi moral jepang dianggap sebagai cara
terhormat untuk mengungkapkan sikap dan pertanggungjawaban terhadap kegagalan
hingga aib yang begitu besar. Brian Phillips dalam esainya yang berjudul ‘The
Sea of Crises’ lebih lajut menjelaskan bahwa Jepang sebagai negara yang secara
historis merayakan bunuh diri dan
meyakini kalau mereka yang mati bunuh diri jauh
lebih terhormat dibandingkan mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan yang tak
sejalan dengan tradisi dan nilai moral Jepang.
Mengingat betapa rumitnya alasan seseorang bunuh diri maka sangat
diperlukan peran dari beberapa ahli spiritual, agama, filosof, psikolog, dan
sebagainya dalam mengungkapkan gagasan baru tentang kebermaknaan hidup di era
kemajuan teknologi dan infromasi ini.
Catantan: Jika ada kesalahan, typo, dan salah tulis bisa kirim saran dan kritiknya di kolom komentar. Tulisan ini boleh dishare.

Komentar
Posting Komentar