Langsung ke konten utama

Miguel Oliviera, Sang Jawara Seri moto gp pertama di Sirkuit Mandalika

 Miguel Oliviera, Sang Jawara Seri moto gp  pertama di Sirkuit Mandalika

.

Maret,20 Maret 2021

Race Moto GP di sirkuit Mandalika akhirnya terselangara di hari minggu, 20 maret 2022. Race atau balapan  sempat tertunda selama 1 jam di karenakan hujan dan akhirnya mampu terselenggara pada pukul 15.15 W.I.B atau 16.15 WITA (Waktu di Lombok). Penantian Indonesia untuk menyelenggarakan balapan moto gp setelah penantian sekian lama akhirnya terwujud.

Saat start, balapan awalnya di pimpin oleh Quartararo yang  start dari pole position. Quartararo sempat memimpin balapan di awal race. Hanya saja Quartararo tidak mampu mempertahankan posisi pertamanya di balapan yang berlansung secara wet race. Bahkan quartarao sempat melorot posisinya di luar 3 besar.

.

Race kemudian menjadi seru karena sempat tersaji duel perebutan urutan pertama antara Oliviera dan Miller di lap kedua. Hingga akhirnya race dipimpin dengan gap cukup jauh oleh Miguel oliviera yang menjauhi kejaran Jack Miller sejak lap kelima. Miguel Oliviera sejatinya memulai start dari posisi ke-7. Posisi start yang sebenarnya kurang bagus. Hanya saja setelah  mengovertake beberapa pembalap, Oliviera nyaman memimpin balapan dengan gap di atas 3 detik dari pembalap di posisi kedua hingga akhir balapan. Raihan yang fantastis bagi Oliviera dalam race.

.

Sorotan dalam race kemudian tertuju pada perebuatn posisi dua antara Miller, Quartarao dan Zarco. Tanpa di duga Quartaro mampu merangsek kebarisan depan lagi sehingga mampu bersaing dengan Miller dan zarco untuk posisi – 2. Berbebekal kematangan skill, Quartaro yang notabene sang jawara dunia 2021 ini mampu finish di posisi 2 di akhir  balapan. Posisi ketiga kemudian dilengkapi oleh Johan Zarco. Sedangkan Miller yang sempat jadi favorit podium hanya puas di posisi ke empat.

.

Hasil ini mendongkrak posisi Oliviera di klasemen perebutan juara dunia ke posisi 4 dengan raihan 25 poin. Quartaro juga merangsek ke peringkat 3 di papan klasemen dengan raihan 27 poin. Mendekatkan jarak dari pemimpin klasemen sementara yakni Enea Bastiani dengan raihan 30. (Wil)

.

Penulis : Muhammad Wildan Habibillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme

(Foto: jendela.kemendikbud.go.id) Esai berjudul 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bertema absurdisme. Esai 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bisa pembaca nikmati hingga bagian akhir artikel. Berikut artikel 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme'. Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme #1 (Oleh : Wildan Rukana) “Hadapilah seperti Sisipus yang mengangkat batu ke puncak bukit berulang kali” Permasalahan manusia modern hari ini adalah pencarian makna atas eksitensinya di dunia. Beberapa orang memahami dirinya sebagai manusia yang bermakna dan beberapa lainnya memahami dirinya sebagai manusia yang sia - sia. Beberapa mati – matian berjuang untuk sesuatu yang membuatnya kecewa. Beberapa lagi merasa bahwa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan, bahwa pada akhirnya semua makhluk pasti mati dan hidup baginya tidak bermakna. Pertanyaan “buat apa ya aku terlahir di dunia ini?” adalah pertanyaan yang akan ter...

Bunuh Diri dalam Beberapa Perspektif

                                                  (Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)                                                  (Foto: pexels.com/ Kripesh adwani) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan manusia di berbagai era. Perbincangan tentang bunuh diri ini bagi sebagian orang akan dianggap sebagai wacana yang sensitive. Hanya saja...

Bunuh Diri di Era Modern, Kompleksitas Pemicu, dan Sudut Pandang Filsafat

          (Ditulis oleh: Muhammad Wildan Habibillah)           (Foto: Muhammad Wildan Habibillah) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Data dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menunjukkan bahwa kurang lebih satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jadi bisa dikatakan bahwa ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia pada setiap 40 detik. Bunuh diri juga menjadi wacana serius dan kompleks di tengah kehidupan masyarakat modern yang kian banyak permasalahan, tekanan kerja, tidak menemukan makna hidup, tekanan permalahan hidup,...