Langsung ke konten utama

Pembangunanisme dan Neoliberalisme

 Pembangunanisme dan Neoliberalisme

(Buah Pikir : Muhammad Wildan Habibillah, 2018)

          Pembangunanisme menjadi sebuah paham yang menjamur pasca kekuasaan presiden Soekarno. Sebuah paham yang melandasi dan menyokong implemetasi poham liberalisme yang kini menjelma menjadi neoliberalisme. Paham pembangunanisme atau yang juga disebut sebagai developmentalism merupakan paham yang terlampaui memuja-muja pembangunan secara Artefact (materil) akan tetapi tidak merata pada semua kelas. Pihak yang paling merasakan manfaat dari pembangunanisme adalah kalangan atas atau pemegang kapital.

            Pembangunannisme masuk dan menjelma dengan cara yang terlihat halus dari masa orde baru dengan kebijakan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Anehnya hal ini sangat didukung oleh masyarakat bahkan hingga sekarang masih dipuja-puja. Sangat miris memang ditengah kelas sosial masyarakat yang makin senjang dengan pembangun  yang sangat neoliberalis, tetapi masyarakat justru menerima model pembangunan ala orde baru. Sejak saat itu kita menjadi bangsa peminjam, seakan kita tidak bisa membangun bangsa ini tanpa modal dari pihak asing. Hal ini sangat miris, padahal bangsa ini ada untuk merdeka 100%. Bangsa yang dibangun karena kesamaan nasib,rasa dan sepenanggungan ini ingin dibangun menjadi bangsa mandiri yang berwawasan sosial.

            Bangsa Indonesia setelah orde baru mengikuti model pembangunan Eropa yaitu Model kapitalisme Negara. Setelah Reformasi 1998 Model kapitalisme Negara berakhir tapi mulai membuka baru yaitu Neoliberalism. Sebuah hal yang tragis memngingat bahwa cita-cita reformasi harusnya kembali pada cita-cita Bung Karno (Mewujudkan kehidupan Indonesia yang sosialis).

            Permasalahan bangsa terlihat kronis mengingat paham Neoliberalism sangat menjangkiti tubuh bangsa Indonesia. Sangat riskan bila melakukan revolusi tapi memang revolusi harus segera terjadi. Ada kepedihan untuk mewujudkan revolusi,tapi revolusi harus terjadi. Sebagai pelita bangsa kita harus menanamkan satu kalimat dalam hati kita setiap hari “menjadi Indonesia adalah menjadi pancasila dan menuju pancasila harus menjadi sosialis”.

(Kenangan tulisan di tahun 2018, kilas balik  Muhammad Wildan Habibillah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme

(Foto: jendela.kemendikbud.go.id) Esai berjudul 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bertema absurdisme. Esai 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bisa pembaca nikmati hingga bagian akhir artikel. Berikut artikel 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme'. Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme #1 (Oleh : Wildan Rukana) “Hadapilah seperti Sisipus yang mengangkat batu ke puncak bukit berulang kali” Permasalahan manusia modern hari ini adalah pencarian makna atas eksitensinya di dunia. Beberapa orang memahami dirinya sebagai manusia yang bermakna dan beberapa lainnya memahami dirinya sebagai manusia yang sia - sia. Beberapa mati – matian berjuang untuk sesuatu yang membuatnya kecewa. Beberapa lagi merasa bahwa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan, bahwa pada akhirnya semua makhluk pasti mati dan hidup baginya tidak bermakna. Pertanyaan “buat apa ya aku terlahir di dunia ini?” adalah pertanyaan yang akan ter...

Bunuh Diri dalam Beberapa Perspektif

                                                  (Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)                                                  (Foto: pexels.com/ Kripesh adwani) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan manusia di berbagai era. Perbincangan tentang bunuh diri ini bagi sebagian orang akan dianggap sebagai wacana yang sensitive. Hanya saja...

Bunuh Diri di Era Modern, Kompleksitas Pemicu, dan Sudut Pandang Filsafat

          (Ditulis oleh: Muhammad Wildan Habibillah)           (Foto: Muhammad Wildan Habibillah) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Data dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menunjukkan bahwa kurang lebih satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jadi bisa dikatakan bahwa ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia pada setiap 40 detik. Bunuh diri juga menjadi wacana serius dan kompleks di tengah kehidupan masyarakat modern yang kian banyak permasalahan, tekanan kerja, tidak menemukan makna hidup, tekanan permalahan hidup,...