Ada yang Terasa Kurang Kalo Gak Ada Italia di Piala Dunia (Edisi Penghobi Estetika Sepakbola)
.
Cepat dan lambatnya Jungkir balik nasib siapa yang tahu. Belum genap setahun yang lalu Italia jadi jawara eropa dan mendapatkan pujian dari pecinta sepak bola. Iya, dan kini Italia memastikan diri “Tidak lolos ke piala dunia” setelah kalah 0-1 dari Makedonia Utara di babak Play off. Kekalahan yang juga makin memebenamkan kesedihan pecinta Gli Azzuri karena gol Makedonia Utara tercipta di babak injury time 90+2. Genaplah sudah kesedihan itu apalagi jika melihat jalannya pertandingan Italia begitu mendominasi pertandingan. Berbekalkan shot 32 percobaan dan hanya 5 yang shot on target plus penguasaan bola 66%. Hanya saja semua peluang Italia tidak terwujud menjadi gol, miris.
.
Capaian Italia ini
menyamai nasib Denmark (Juara Euro 1992) di tahun 1994 dan Yunani (Jawara euro
2004) di tahun 2006 sebagai jawara eropa yang tak lolos piala dunia. Sebuah capaian yang terbilang unik mengingat
sebenarnya Italia di isi oleh sekuat yang cukup bagus. Ada nama-nama seperti
Verratti, Jorginho,Locatelli, Immobile, Donnarruma dan sederet bintang
lainnya.Pemain-pemain andalan di klubnya masing-masing itu plus juru taktik
berpengalaman yakni Roberto Mancini nyatanya tak cukup untuk membawa Italia
lolos ke piala dunia. Nyatanya fans Gli Azzuri yang sudah terlajur optimis dan
berekspektasi tinggi harus pupus dengan capaian yang menggetirkan ini. “Tak
lolos piala dunia” dan harus menonton negara-negara “Non-Italia” yang bermain
di Piala Dunia.
.
Sebenarnya saya yang
kadangkala agak ngantuk jika melihat permaianan defensif plus serangan balik
khas Italia juga agak kurang srek dengan hasil ini. Bagaimanapun Italia itu
membuat gelaran macam Piala dunia jadi lebih berwarna dengan taktik yang popular
disebut sebagain besar orang sebagai “Catenaccio”. Namanya keren “Catenaccio”
bro.
.
Entah mengapa kalo
nonton Italia itu kadangkala membosankan tapi juga kadang kala seru juga.
Sepakbola Italia itu banyak yang bilang “kaya taktik”. Kadangkala taktik mengejutkan dari Italia
itu “ngangenin”. Terbukti generasi emas timnas Belgia bisa ditraklukkan oleh
Italia di gelaran Euro tahun Lalu.
Kalo mundur nostalgia
ke belakang tentang timnas Italia barangkali penggemar sepakbola tak lupa
dengan momen Italia mengalahkan jerman di Piala dunia 2006. Saat itu saya masih
kecil dan Tak menyangka “Kok bisa Italia yang menang?”. Saat itu saya memang
tak terlalu suka dengan permainan macam Timnas Italia itu, kurang asyik aja
kalo di tonton 90 menit. Hingga pada satu waktu Real Madrid di latih Carlo
Ancelotti (Pelatih dari Italia) dan mendapatkan gelar La Decima di tahun 2014,
saya senang sebagai penggemar Real Madrid. Apalagi saat Real Madrid mengalahkan
Bayern Munchen di Alianz Arena dengan skor 4-0. Nah saat itu saya mulai
diam-diam mengepresiasi gaya permainan defensive yang kadangkala dipakai
Ancelotti di Liga Champion. “Ternyata asyik juga melihat lawan ngos-ngosan
menguasai bola tapi akhirnya bisa dikalahkan.” Ini juga yang akhirnya
mempengaruhi startegi saya kalo main game sepak bola, main defensive.
.
Saya pada satu waktu
akhirnya jadi sering nonton pertandingan lampau Real Madrid tahun 2006-2007 waktu
masih dilatih Capello dari Youtube. Ya ternyata keren juga startegi defensifnya
Capello ini. Bisa berbuah gelar juara La Liga di tahun 2007 plus mengalahkan
Barcelona di El Clasico. Keren juga ya pelatih-pelatih Italia ini. Pelatih
macam Ancelotti dan Fabio Capello ini pernah mengisi bagian dari Real Madrid
dan berbuah gelar juara. Keren juga sepak bola Italia.
.
Oke, kembali lagi membahas
tentag Italia. Permaianan khas Italia ini memang bagi sebagian orang kurang
ayik hanya saja ini mebuat tontonan jadi variasi. Tak melulu melihat posseion
ball atau sejenisnya. Adanya Italia di gelaran turnamen besar itu agaknya
menambah variasi tontonan terkait adu taktik di lapangan. Jadinya Turnamen
berjalan tidak membosankan. Ada tim yang diam-diam strateginya mengejutkan
lawan macam Italia. Toh strategi macam Italia ini bisa mengantarkan Timnas
Italia jadi juara piala dunia di tahun 2006 dan jadi finalis (Runner-Up kalah
adu penalti) di tahun piala dunia 1994 jamannya Roberto Baggio. Italia memang
bisa secara mengejutkan menang dan secara mengejutkan kalah. Nah, Kalo Gak ada Italia di Piala Dunia
rasanaya Kurang Gimana gitu. (Wil)
.
Latepost, Maret 26 Maret
2022
penulis : Wildan Rukana

Komentar
Posting Komentar