Langsung ke konten utama

Singkat Cerita Terbentuknya Negara (Analisis melalui Matrealisme Historis)

Singkat Cerita Terbentuknya Negara (Analisis melalui Matrealisme Historis)

Penulis : Muhammad Wildan Habibillah

Dipublis oleh : LSIS (Lingkar Studi Ilmu-ilmu dan Isu-isu Sosial)

 

                Awalnya kita bersuku-suku lalu kini kita berbangsa-bangsa, bernegara-negara. Iya kita kini bernegara-negara.  Seperti apa itu negara ?  Perlukah kita mengetahui apa itu negara, perlukah ada negara ? mengapa ada negara. Mari kita bahas secara ringan-ringan saja.

                Pejamkan mata, mari kita bernostalgia pada masa lampau dalam pikiran kita. Bayangkan kejadian ini dengan imajinasi. Pada suatu kisah kita sebagai manusia masih berburu dan meramu. Hidup kita nomaden, berpindah-pindah secara berkelompok. Ikatan berburu secara berkelompok ini kemudian membuat kita memiliki rasa primodial keterikatan yang kemudian membuat kita bersuku-suku. Ikatan kelompok dalam suku itu juga disebabkan adanya ikatan darah dalam kelompok-kelompok, pun pula ikatan kasih sayang.  Kita berburu, berburu dan berburu lalu mendapatkan hasil buruan. Iya, setelah itu kemudian kita menikamti hasil buruan itu secara kolektif. Pada saat itu kita sangat bergantung pada alam tapi kita menggunakan alam sewajarnya dan hasil kita nikmati bersama secara komunal (kolektif).

                Apa yang terjadi kemudian ? Apakah kita menjadi jahat dan singkir-menyingkirkan satu sama lain ? setelah  masa berburu yang kita lalui kita makin pandai mulailah kita membuka lahan dari hutan-hutan menjadi sawah-sawah. Iya, kita mulai mengenal pertanian dan bercock tanam. Lahan-lahan dibuka untuk dibuka, dolah bersama, dan hasilnya dinikmati bersama. Pada masa ini masyarakat bersistem primus Interpares yang dipimpin oleh kepala suku. Pada masa ini kepala suku dipilih berdasarkan kebijaksanaan dan kekuatan yang dimiliki oleh kepala suku. Lalu apakah kemudian terjadi pergerseran dalam pemilihan kekuasaan ?

                Singatnya Ikatan primordial pada masa yang lampau itu semakin kuat seiring berjalannya waktu.  Apa yang terjadi kemudian ? beberapa di antara kepala suku pada masa Pra kapitalis ini memiliki sikap serakah dan ingin memperluas wilayah. Sebagian dari  kepala suku pada masa itu yang awalnya sebagai koordinator ini kemudia mulai mendapat legitimasi dan pengkultusan dari anggotanya sehingga kemudian kekuasannya semakin kuat.  Perang antar suku pada masa itu mulai terjadi awalnya karena ikatan primordial tetapi lama kelaman menjarah pada hal-hal yang material seperti perluasan wilayah dan lain-lain.  Mulai timbullah zaman bangsawan-bangswan dan raja-raja dalam sistem kerajaan pada saat itu. Pada masa  kerajaan ini mulai timbul penmgkultusan pada raja-raja, masyarakat mengabdi pada raja dan rela atau terpaksa mulai ada sistem upeti.

                Zaman kerajaan timbul beberapa bangsa pun mulai mengenal adanya perbudakan. Alangkah kejamnya beberapa peradaban pada masa itu. Masa yang bisa disebut mulai semi kapitalis. Bangsawan hidup dalam kegelimangan dan rakyat tunduk saja pada raja-raja yang memiliki kekuasaan absoulut kala itu. Bagi beberapa bangsawan dan beberpa raja kemewahan hidup akan semakin besar apabila wilayah semakin luas karena akan semakin menambah pendapatan melaui upeti dari yang diekspansi.  Beberapa raja kala itu saling berperang satu sama lain dan rakyat bersatu atas dasar ikatan-ikatan dan kestiaan pada raja. Iya, sedangkan beberpa raja tadi bertanding untuk uang. Raja-raja yang rakus mulai amat berkuasa dengan kekuatan angkatan bersenjatanya.

                Apa yang terjadi kemudian ? beberapa raja yang berkuasa besar muali sangat diktator dan semaunya sendiri. Kalngan borjuis mulai terusik. Iya kala itu demokrasi hanya milik bangsawan.  Siapa yang dirugikan waktu itu ? tak lain dan dan tak bukan adalah rakyat biasa dan borjuis yang terkena pajak oleh kerjaan. Beberapa borjuis mulai menyusun rencana. Iya, rencana mulai disusun agar mereka punya lebih banyak kuasa melampaui kuasa secara ekonomi.

                Revolusi mulai terjadi, pada wilayah jauh di sana ada beberapa raja yang lengser dan beberapa lainnya dikurangi kekuasaannya.  Kini memang ada yang masih berkonsep kerajaan tetapi beberapa diantaranya sekedar simbol. Konsep Negara Republik mulai ada di mana. Singkatnya  ada yang berdiri dengan ideologi yang liberal ada pula yang berdiri dengan ideologi yang komunis.  Sebagaian besar konsep ini sesuai untuk mewujudkan cita-cita kolektif. Benarkah ?

                Ternyata kita sebagai manusia juga tak kunjung berhenti berperang. Tak hanya pertempuran bermotif ideologi tetapi sebagaian besar justru bermotif ekonomi. Mari pejamkan mata lalu kita lihat realita, konflik ada di mana-mana. Tak hanya perang antar negara perang secara internal dalam negara juga terjadi di beberpa belahan dunia. Ada apa ? mari kita pejamkan mata lagi dan kita renungkan ? kita dirikan negara republik atas dasar demokrasi, semua manusia belahan dunia mengakuinya. Kita berdiri atas dasar kesatuan cita-cita, sebagaian besar manusia menginginkanya yakni  Keadilan yang merata dengan adanya demokrasi. Masalahnya adalah ada sebagia kecil yang menjadi elit dan mengnginkan keadilan hanya untuk mereka dan negara mereka anggap hanya milik mereka (oligharki).

.

Malang, 21 Januari 2019

 

Ref : - Semaun. Hikayat Kadiroen.

-          Hasil renungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme

(Foto: jendela.kemendikbud.go.id) Esai berjudul 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bertema absurdisme. Esai 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bisa pembaca nikmati hingga bagian akhir artikel. Berikut artikel 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme'. Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme #1 (Oleh : Wildan Rukana) “Hadapilah seperti Sisipus yang mengangkat batu ke puncak bukit berulang kali” Permasalahan manusia modern hari ini adalah pencarian makna atas eksitensinya di dunia. Beberapa orang memahami dirinya sebagai manusia yang bermakna dan beberapa lainnya memahami dirinya sebagai manusia yang sia - sia. Beberapa mati – matian berjuang untuk sesuatu yang membuatnya kecewa. Beberapa lagi merasa bahwa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan, bahwa pada akhirnya semua makhluk pasti mati dan hidup baginya tidak bermakna. Pertanyaan “buat apa ya aku terlahir di dunia ini?” adalah pertanyaan yang akan ter...

Bunuh Diri dalam Beberapa Perspektif

                                                  (Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)                                                  (Foto: pexels.com/ Kripesh adwani) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan manusia di berbagai era. Perbincangan tentang bunuh diri ini bagi sebagian orang akan dianggap sebagai wacana yang sensitive. Hanya saja...

Bunuh Diri di Era Modern, Kompleksitas Pemicu, dan Sudut Pandang Filsafat

          (Ditulis oleh: Muhammad Wildan Habibillah)           (Foto: Muhammad Wildan Habibillah) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Data dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menunjukkan bahwa kurang lebih satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jadi bisa dikatakan bahwa ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia pada setiap 40 detik. Bunuh diri juga menjadi wacana serius dan kompleks di tengah kehidupan masyarakat modern yang kian banyak permasalahan, tekanan kerja, tidak menemukan makna hidup, tekanan permalahan hidup,...