Langsung ke konten utama

Bunuh Diri dalam Pandangan Para Filosof

(Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)


                                                             (Foto: pexels.com/ Julian Jagtenberg)

(Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.)

Hidup dan mati menjadi salah satu hakekat mendasar yang dipertanyakan banyak manusia. Pilihan untuk memilih tetap hidup atau mati menjadi hal filosofis yang dihadapi manusia yang tiba – tiba saja hadir di dunia ini. Pertanyaan tentang apakah hidup layak untuk dijalani memiliki jawaban dan perspektif yang berbeda dari pandangan setiap individu yang unik.

Salah satu keputusan krusial bagi setiap insan ialah pilihannya untuk tetap hidup atau mati dalam menghadapi situasi yang sedang dihadapi. Pada satu kondisi beberapa manusia dari berbagai abad memilih untuk ‘bunuh diri’ sebagai pilihan reaksi atas keadaan yang dihadapi.

Data dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menunjukkan bahwa kurang lebih satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jadi bisa dikatakan bahwa ada orang yang bunuh diri di suatu temoat di dunia pada setiap 40 detik. Fakta ini juga menunjuukan bahwa jumlah orang yang mati karena bunuh diri lebih tinggi dari jumlah korban meninggal karena perang ataupun konflik sosial lainnya.

Pada saat yang bersamaan pertanyaan filosofis tentang pilihan ‘bunuh diri’ menjadi kajian yang coba dijawab oleh beberapa filosof. Pendapata dari para filosof ini sudah tentu memiliki perbedaan perspektif pro dan konra. Kant melalui bukunya yang berjudul ‘Metaphysik der Sitten’ pada 1785 berpendapat bahwa bunuh diri merupakan suatu tindakan pelanggaran kewajiban orang terhadap dirinya sendiri sehingga tidak pernah dapat dinenarkan.

Pendapat lain datang dari Johan Gottlieb (Filsuf Idelisme Jerman) berpendapat dalam bukunya yang berjudul ‘das System der Sittenlehre’ pada tahun 1798 berpendapat bahwa orang memerlukan keberanian besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun dibutuhkan keberanian lebih besar lagi untuk melanjutkan hidup dengan segala dinamikanya.

Sedangkan Arthur Schopenhauer seorang filsuf Jerman berpendapat pada bukunya yang berjudul ‘Parega Un Paralipomena’ pada tahun 1851 tentang bunuh diri. Menurut pendapat Schopenhauer bunh diri diperboplehkan ketika rasa sakit kehidupan dianggap lebih menyakitkan dari rasa sakit kematian. Bagi Schopenhauer tindak bunh diri pada keadaan tertentu dianggap masuk akal dan dilihat sebagai kebebasan suatu individu manusia atas dirinya sendiri. Salah seorang filosof terkenal asa Jerman lainnya yakni Nietzche juga berpendapat bahwa bunuh diri merupakan hak mendasar bagi individu yang menginginkannya.

Pada hal ini ada dua perspektif berbeda terhadap bunuh diri dari pandangan beberapa filosof. Bunuh diri bisa dikatakan suatu fenomena kehidupan yang disebabakan oleh faktor-faktor yang kompleks. Mengingat tidap manusia di dunia memiliki permasalahan dan pengalaman hidup yang berbeda-beda serta kekuatan yang berbeda-beda jua dalam menoleransi rasa sakit terhadap kehidupan. Jadi pendapat tentang tindakan bunuh diri dari perspektif para filososf tadi juga didasari oleh fenomena yang khas pada setiap zaman dan perspetif yang khas juga dari para filosof tadi dalam memaknai kehidupan.

Pendapat tentang bunuh diri juga diungkapkan oleh filosof Yunani kuno. Plato berpendapat bahwa bunuh diri merupakan tanda seseorang yang tidak melihat keluhuran kehidupan. Hanya saja Plato tidak sepenuhnya menolak bunuh diri ketika kehiduapn justru menciptakan penderitaan besar yang tak tersembuhkan.

Aristoteles yang notabene murid dari Plato berpendapat dalam bukunya yang berjudul ‘Nicomachean Ethics’ tentang bunh diri. Aristoteles berpendapat bahwa bunuh diri sebagai tindakan yang membutuhkan alasan mendasar yang kuat. Ketika tindakan bunuh diri itu tidak didasari oleh alasan yang kuat maka tindak bunuh diri tersebut merupakan pelanggaran hak pribadi seseorang dan juga pelanggaran terhadap kehidupan bermasyarakat.

Albert Camus (Filsuf Prancis) juga berpendapattentang bunuh diri dalan bukunya ‘Mythos von Sisyphos’. Camus berpendapat dalam tentang satu hal filosofis yang penting untuk direnungkan yakni apakah hidup kita ini layak untuk dijalani atau tidak? Hal ini menjadi salah satu pertanyaan filosofis dalam filsafat.

Mengingat bunuh diri menjadi fenomen yang juga ramai diperbincangkan dalam kemajuan arus informasi dan juga permasalahan kehidupan modern yang semakin kompleks maka perlu kajian lebih lebih serius lagi dari beberagai tokoh filsuf, agama, psikolog, dan berbagai elemen masyarakat tentang fenomen bunuh diri. Kajian yang lebih penting juga ialah wacana tentang “Seberapa berartinya hidup ini sekalipun seseorang menghadapi penderitaan pada tingkatan yang ekstrem?”. Itu menjadi kajian yang penting agar manusia bisa menambah perspektif tentang bernilai atau tidaknya kehidupan. Sekian tulisan yang sungkan untuk saya sebut sebagai ‘esai filsafat’ amatiran ini. Selamat beraktivitas dan terus merenungi hidup, semoga bahagia.


Catantan: Jika ada kesalahan, typo, dan salah tulis bisa kirim saran dan kritiknya di kolom komentar. Tulisan ini boleh dishare.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme

(Foto: jendela.kemendikbud.go.id) Esai berjudul 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bertema absurdisme. Esai 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme' ini bisa pembaca nikmati hingga bagian akhir artikel. Berikut artikel 'Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme'. Menghadapi, Merayakan, dan Menikmati Absurdisme #1 (Oleh : Wildan Rukana) “Hadapilah seperti Sisipus yang mengangkat batu ke puncak bukit berulang kali” Permasalahan manusia modern hari ini adalah pencarian makna atas eksitensinya di dunia. Beberapa orang memahami dirinya sebagai manusia yang bermakna dan beberapa lainnya memahami dirinya sebagai manusia yang sia - sia. Beberapa mati – matian berjuang untuk sesuatu yang membuatnya kecewa. Beberapa lagi merasa bahwa tidak perlu ada yang harus diperjuangkan, bahwa pada akhirnya semua makhluk pasti mati dan hidup baginya tidak bermakna. Pertanyaan “buat apa ya aku terlahir di dunia ini?” adalah pertanyaan yang akan ter...

Bunuh Diri dalam Beberapa Perspektif

                                                  (Ditulis Oleh: Muhammad Wildan Habibillah)                                                  (Foto: pexels.com/ Kripesh adwani) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan manusia di berbagai era. Perbincangan tentang bunuh diri ini bagi sebagian orang akan dianggap sebagai wacana yang sensitive. Hanya saja...

Bunuh Diri di Era Modern, Kompleksitas Pemicu, dan Sudut Pandang Filsafat

          (Ditulis oleh: Muhammad Wildan Habibillah)           (Foto: Muhammad Wildan Habibillah) (Disclaimer: Tulisan ini tidak dasari oleh motivasi apapun dan kesimpulan dari tulisan ini bebas diartikan oleh pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab jika pembaca menyimpulkan tulisan ini secara keliru dan mengambil tindakan keliru karenanya. Ini hanyalah sebuah tulisan yang sebenarnya tidak perlu dimaknai apapun.) Bunuh diri menjadi salah satu fenomena yang selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Data dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menunjukkan bahwa kurang lebih satu juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Jadi bisa dikatakan bahwa ada orang yang bunuh diri di suatu tempat di dunia pada setiap 40 detik. Bunuh diri juga menjadi wacana serius dan kompleks di tengah kehidupan masyarakat modern yang kian banyak permasalahan, tekanan kerja, tidak menemukan makna hidup, tekanan permalahan hidup,...